top of page

Masjid Si Pitung dari Pesisir Pantai Marunda

#FieldNotes

Penulis: Irfan Maulana Penyunting: Greace Xaveria

Foto: Irfan Maulana


Mungkin bagi sebagian orang masjid hanya dilihat sebagai tempat untuk beribadah atau tempat yang berhubungan dengan kegiatan keagamaan. Tetapi banyak juga sebagian dari kita yang melihat masjid dari sisi lain, salah satunya adalah sisi seni. Ya, masjid merupakan manifestasi dari nilai-nilai seni arsitektur yang mempunyai makna filosofis yang mendalam. Saya termasuk salah satu orang yang sering mengamati konsep seni arsitektur dan elemen-elemen yang ada pada masjid. Kemudian bertanya-tanya tentang makna yang terkadung di dalamnya. Terlebih lagi masjid-masjid kuno di Indonesia yang memiliki kekhasan arsitektur tersendiri jika dibandingkan dengan masjid-masjid kuno yang ada di berbagai belahan dunia. Kekhasan masjid kuno tersebut terjadi karena adanya percampuran unsur Islam, unsur global dan unsur lokal atau pra Islam baik dari zaman prasejarah hingga zaman Hindu-Buddha.


Masjid-masjid kuno yang ada di Indonesia tersebar hampir di seluruh pulau mulai dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku hingga Papua yang tersebar dari pesisir hingga pedalaman pulau. Pada periode awal perkembangan Islam, masjid terdapat di wilayah pesisir utara Jawa, seperti di kota Demak, Kudus, Cirebon, Banten, Tuban dan Gresik (Nasution, 2014). Selain itu, masjid kuno yang berada di pesisir utara Jawa juga terdapat di kota metropolitan, tepatnya di daerah pesisir pantai Marunda, Jakarta Utara. Masjid tersebut adalah masjid Al-Alam Marunda. Seperti namanya, masjid Al-Alam Marunda berlokasi di Jalan Marunda Kelapa, No.1, Marunda, Cilincing, Jakarta Utara. Terdengar asing bukan? Ya, karena masjid ini lebih dikenal oleh warga Jakarta dengan sebutan masjid Si Pitung. Selain itu, masjid kuno ini tertutupi dengan munculnya bangunan-bangunan modern yang lebih indah dan megah di tengah-tengah ibukota, sehingga tak jarang menyebabkan masjid kuno ini terlupakan.



Gambar 1. Lokasi Masjid Al-Alam Marunda (Sumber : Google.maps)


Berbicara mengenai penamaan masjid ini dengan sebutan masjid Si Pitung, menurut warga setempat dahulu masjid ini seringkali digunakan oleh Si Ptung untuk beriktikaf dan beristirahat. Selain itu, masjid ini juga digunakan sebagai persembunyian Si Pitung dari kejaran orang Belanda. Kemudian versi lain menceritakan bahwa masjid Al-Alam merupakan tempat Si Pitung ketika kecil menghabiskan waktu untuk bemain dan belajar agama hingga dewasa. Namun, cerita tersebut hanyalah cerita turun temurun tanpa ada sumber yang pasti dan jelas.


Berbicara mengenai sejarah dari pembangunan awal masjid ini, Heuken mengaitkan awal pembangunan masjid ini dengan penyerangan pertama Sultan Agung ke Batavia, yaitu pada tahun 1628. Pasukan Mataram yang dipimpin oleh Tumenggung Baurekso membuat markas di Muara Sungai Marunda pada tanggal 21 September 1628. Mestinya tidak lama setelah sampai di tempat ini, Tumenggung Baurekso Bersama pasukannya mendirikan sebuah masjid. Masjid ini didirikan selain sebagai tempat ibadah shalat lima waktu berjama’ah, juga sebagai tempat menyusun strategi perang. Seperti diketahui bahwa Mataram adalah sebuah kerajaan Islam terbesar saat itu, menguasai hampir seluruh tanah Jawa bagian tengah dan timur. Oleh karena itu, muncul dugaan kuat bahwa Masjid Al Alam Marunda di bangun pertama kali oleh Tumenggung Baurekso Bersama pasukannya pada tahun 1628 (Ashadi, 2018: 83-84). Namun terdapat versi lain mengenai sejarah awal pendirian masjid ini, versi lain tersebut mengatakan bahwa masjid ini didirikan ole Fatahillah terkait dengan penyerbuan Fatahillah ke Sunda Kelapa pada tahun 1527 yang akan menyerang bangsa Portugis.


Jika kita amati lebih dalam, masjid Al-Alam Marunda mempunyai ciri arsitektur yang khas dan mempunyai keunikan dan makna tersendiri pada setiap elemen masjid yang ada. Letaknya yang berada di pulau Jawa membuat masjid ini memiliki beberapa keseragaman arsitektur dengan masjid kuno lain yang berada di pulau Jawa. Atmosudiro,dkk (2008) dalam Nasution (2014) menjelaskan bahwa terdapat ciri-ciri dari masjid kuno yang digali dari beberapa masjid kuno yang ada di Jawa, diantaranya 1) mempunyai pagar keliling; 2) ruang utamanya berdiri pada fondasi yang berdenah bujur sangkar; 3) mempunyai serambi, yaitu ruang yang berada di depan ruang utama, ataupun di sisi sebalah kanan dan kiri dari ruang utama. Dan kolam di depan atau juga di kanan–kiri bangunan masjid; 4) mempunyai mihrab, yaitu tempat imam waktu salat berjamaah 5) mempunyai pawestren, yaitu tempat shalat berjamaah wanita; 6) beratap tumpang dengan puncak mustaka, dan 7) biasanya tidak mempunyai menara (Atmosudiro, dkk, 2008).


Melihat ciri-ciri masjid kuno di pulau Jawa yang dikemukakan oleh Atmosudiro,dk (2008), masjid Al-Alam Marunda mempunyai denah bujur sangkar dengan ruang utama shalat berukuran sekitar 8m x 8m. Mempunyai serambi yang berada di sebelah timur dan selatan dengan ukuran masing-masing sekitar 4m x 8m. Serambi yang berada di sebelah timur masjid juga berfungsi sebagai pawestren, yaitu tempat para wanita untuk shalat. Jadi pada ruang utama masjid hanya diperuntukkan untuk laki-laki saja. Mempunyai mihrab pada dinding sisi barat ruang utama dengan ukuran badan menjorok ke dalam dan keluar. Masjid ini tidak dilengkapi dengan menara dan juga bangunan masjid dikelilingi pagar beton pada sisi utara, timur dan selatan. Atap dari masjid ini berbentuk tajuk tumpang. Umumnya masjid-masjid kuno di Jawa menurut Pijper (1984) dalam Nasution (2014) memilki jumlah atap tumpang ganjil. Tetapi hal ini berbeda dengan masjid-masjid kuno di Jakarta yang memiliki atap tumpang dua sebagaimana masjid Al-Alam Marunda. Selain atap tajuk tumpang, masjid ini dilengkapi dengan atap kampung (atap rumah tradisiona sederhana) yang menaungi serambi sisi timur dan selatan.


Selain memiliki keseragaman ciri-ciri dengan masjid kuno lain yang berada di pulau Jawa. Masjid Al-Alam Marunda secara keseluruhan bangunan memperlihatkan adanya akulturasi arsitektur dari tiga budaya yang berbeda. Ketiga arsitektur tersebut adalah arsitektur tradisional Jawa, Betawi, dan arsitektur kolonial Belanda. Bentuk arsitektur tradisional Jawa dapat kita lihat melalui bentuk atap bangunan yang berupa tajuk tumpang. Bentuk arsitektur Betawi dapat dilihat dari dinding masjid yang didominasi jendela berjeruji kayu. Bentuk arsitektur kolonial Belanda dapat dilihat dari bentuk empat tiang saka guru yang bergaya order Yunani, yaitu order dorik (Ashadi, 2018:90). Tiang saka guru pada masjid ini mempunyai bentuk persegi pada bagian kaki kemudian bulat pada bagian badan tiang dan persegi pada bagia kepala. Pada bagian badan dan kaki terdapat hiasan berupa galur-galur (Pasha, 2017:36).




Gambar 2. Masjid Al-Alam Marunda dengan atap tajuk tumpang dua dan atap kampung (Dokumentasi Penulis, 2019).


Gambar 3. Tiang Saka Guru (Dokumentasi Penulis, 2019)


Gambar 4. Jendela Berjeruji Kayu (Dokumentasi Penulis, 2019)


Tak hanya mempunyai konsep arsitektur yang khas, masjid ini memiliki elemen-elemen yang menarik dan unik. Elemen masjid yang paling menarik perhatian saya di masjid ini adalah sebuah lubang kecil berbentuk oval yang terdapat di bagian selatan dinding bangunan utama. Konon, lubang ini berfungsi sebagai tempat pengintaian oleh pasukan terhadap kapal Belanda yang masuk ke area Marunda. Karena selain sebagai tempat beribadah, masjid ini dibangun dengan tujuan sebagai tempat menyusun strategi perang.


Gambar 5. Lubang untuk mengintai musuh (Dokumentasi Penulis, 2019)


Selain lubang kecil berbentuk oval, yang menarik juga dari masjid ini adalah adanya sumur yang berada di timur laut masjid sebagai tempat berwudhu. Sumur tua ini berukuran 2 m x 3 m yang dilindungi oleh bangunan kecil. Sumur digunakan untuk berwudhu dan keperluan kegiatan lain masjid.


Gambar 6. Sumur Masjid (Dokumentasi Penulis, 2019)


Sebagai sebuah bangunan cagar budaya, masjid Al-Alam Marunda pernah dipugar pada tahun 1970 oleh Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta dengan melakukan penggantian beberapa komponen atap dan pemberian lapisan pelindung berupa plastik pada bagian bawah atap agar terlindung dari kelembaban dan siraman air hujan, pembuatan tanggul di sisi utara masjid untuk melindungi masjid dan ancaman abrasi pantai.


Masjid Al-Alam Marunda sebagai sebuah masjid kuno di Indonesia memliki konsep arsitektur dan makna filosofis tersendiri di dalamnya. Hal tersebut menjadi salah satu sisi yang bisa kita lihat ketika kita berkunjung ke masjid ini. Jadi, kita bisa mendapatkan dua manfaat sekaligus ketika berkunjung masjid ini, yaitu pahala karena kita melakukan kegiatan agama di dalamnya dan ilmu karena kita mencoba mengamati serta mendalami setiap makna filosofis yang terkandung baik dari konsep arsitektur maupun elemen-elemen yang ada pada masjid.


 

Sumber :

  1. Ashadi. (2018). Akulturasi Arsitektur Masjid-Masjid Tua di Jakarta. Jakarta : Penerbit Arsitektur UMJ Press.

  2. Pasha, Abi Rafdi. (2017). Resistensi dan Hibriditas Masjid Kuno di Jakarta Abad XV-XIX (Relasi Konsep Saka Guru Masjid Kuno di Jawa). Skripsi. Depok : Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.

  3. Nasution, Isman Pratama. (2014). Masjid Kerajaan di Indonesia Abad 16-20 Masehi Sebagai Representas Kuasa. Disertasi. Depok : Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.

  4. Sugiyanti, Sri.,dkk. (1999). Masjid Kuno Indonesia. Jakarta : Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala.

  5. Handoni, Hilman.,dkk. (2018). Masjid Warisan Budaya di Jawa dan Madura. Jakarta : Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman. (Diakses tanggal 12 Mei 2020, melalui http://repositori.kemdikbud.go.id/14759/2/Masjid%20Warisan%20Budaya.pdf)

  6. Studi Bentuk dan Elemen Arsitektur Masjid di Jakarta dari Abad 18-20 Masehi. ComTech. Vol.3, (2), 917-927. (Diakses tanggal 12 Mei 2020, melaui https://media.neliti.com/media/publications/166069-ID-studi-bentuk-dan-elemen-arsitektur-masji.pdf)

  7. Lasmiyati. (2009). Penyebaran Agama Islam di Jakarta Abad XVII-XIX. Patanjala. Vol.1, (1), 76-83. (Diakses tanggal 12 Mei 2020, melaui https://www.researchgate.net/publication/323791166_PENYEBARAN_AGAMA_ISLAM_DI_JAKARTA_ABAD_XVII_-_XIX)

  8. Darmawan, Ahmad. (2017). Penelusuran Warisan Budaya Jakarta Melalui Heritage Bangunan Masjid Al-Alam Marunda. Seminar Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia (IPLBI). Vol. 1,435-440). (Diakses tanggal 12 Mei 2020, melaui https://seminar.iplbi.or.id/wp-content/uploads/2017/06/HERITAGE2017-A-435-440-Penelusuran-Warisan-Budaya-Jakarta-melalui-Heritage-Bangunan-Masjid-Al-Alam-Marunda.pdf)

Comments


Hubungi Kami!

Email: kamafibui@gmail.com

Line Offical : @fho0000i

Ikuti Sosial Media Kami!

Yuk di Subscribe untuk mengetahui update lebih cepat dari KAMA.

  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube

Keluarga Mahasiswa Arkeologi Universitas Indonesia 2020

bottom of page