Penulis : Alfa Alauddin Arrisaputra
Penyunting : Greace Xaveria
Tidak banyak yang tahu, bahwa selama berpuluh- puluh tahun ini, museum yang biasanya kita kenal sebagai tempat penyimpanan barang sejarah, kini berusaha untuk lebih berkembang dalam mengatasi tantangan dunia yang lebih modern. Museum berusaha mengubah stigma yang sebelumnya hanya berfokus pada koleksi menjadi institusi yang berorientasi pada pengunjung. Perubahan-perubahan yang dilakukan bukan bersifat semaunya saja, tetapi juga bergerak berdasar pada definisi museum oleh International Council of Museums (ICOM), yaitu,
“Museum merupakan sebuah institusi yang bersifat non-profit dan permanen dalam melakukan pelayanan masyarakat dan perkembangannya, terbuka bagi publik, yang mengakuisisi, melestarikan, meneliti, mengkomunikasikan, dan memamerkan peninggalan/warisan manusia, baik berwujud maupun tidak berwujud, dan lingkungan untuk tujuan pendidikan, studi, dan kesenangan.”
Dari definisi tersebut, dapat dilihat bahwa museum bertujuan untuk melayani masyarakat dalam bidang edukasi dan rekreasi sehingga pengunjung yang datang ke museum bisa merasakan tambahan pengetahuan serta memberikan kesenangan dan kepuasan pengunjung (Sutaarga, 1999). Dalam perjalanannya, museum juga harus siap dengan berbagai tantangan yang dihadapi oleh lingkungan komunitasnya sebagai salah satu bukti keterlibatan museum di tengah masyarakat. Seperti yang dikemukakan oleh Black dalam tulisannya yang berjudul “Embedding civil engagement in museums”, terdapat lima prinsip inti yang harus dilakukan museum untuk mendukung keterlibatan museum di tengah masyarakat ataupun keterlibatan masyarakat di tengah museum, salah satunya adalah museum memiliki sifat sebagai lembaga sosial dan lembaga responsif. Dalam hal ini, berarti museum harus dapat menjangkau, menerima dan menampilkan suara dari komunitas serta harus dapat beradaptasi terhadap kebutuhan masyarakat kontemporer (Black,2010).
Sejak awal tahun 2020, hampir seluruh negara di dunia termasuk Indonesia terdampak bencana pandemi global yang diakibatkan oleh virus Covid-19. Karena sifat dari virus ini yang memiliki tingkat penyebaran tinggi, pemerintah Indonesia kemudian menetapkan beberapa peraturan seperti penutupan bangunan-bangunan publik untuk mencegah penyebaran dan salah satu ruang publik yang terdampak adalah museum- museum di Indonesia. Salah satunya adalah Musuem Nasional Indonesia. Melihat kondisi ini, museum sebagai ruang publik harus menutup aksesnya ke masyarakat, tetapi disisi lain, museum sebagai sebuah lembaga juga harus tetap berperan sebagai lembaga yang menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik sekaligus menjadi lembaga yang responsif terhadap kondisi komunitasnya.

Gambar 1. Halaman Depan Museum Nasional Indonesia (goodnewsfromindonesia.id)
Seperti yang kita tahu, Museum Nasional Indonesia (MNI) merupakan museum yang memiliki peran penting bagi Indonesia karena dalam bangunan ini, tersimpan lebih dari 160.000 benda-benda bernilai sejarah yang mencangkup tinggalan dari masa prasejarah sampai masa kolonialisme dan bahkan benda-benda yang erat kaitannya dengan numismatik dan heraldik; Keramik; Etnografi, Geografi dan lainnya. Visi dari museum ini mengacu kepada visi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yakni “Terwujudnya Museum Nasional Indonesia sebagai pusat informasi budaya dan pariwisata yang mampu mencerdaskan kehidupan bangsa, meningkatkan peradaban dan kebanggaan terhadap kebudayaan national, serta memperkokoh persatuan dan persahabatan antar bangsa”.
Dari visi tersebut, dapat dilihat bahwa manfaat yang didapatkan oleh masyarakat dari adanya museum ini tidaklah sedikit, akan sangat disayangkan apabila karena adanya kondisi pandemi seperti ini, museum harus berhenti beraktivitas. Oleh karena itu, salah satu cara yang dilakukan agar tetap terhubung adalah dengan melakukan public engagement dengan membuat program publik yang dapat dilakukan tanpa pengunjung harus berkunjung langsung ke museum. Salah satu caranya adalah memanfaatkan aplikasi-aplikasi digital yang bisa diakses dengan mudah oleh masyarakat luas.
Sebelum masa pandemi, sebenarnya Museum Nasional Indonesia sudah melakukan survei terkait kelompok usia pengunjung museum untuk mengetahui segmen pasar yang dituju dalam melaksanakan program. Akan tetapi, dengan adanya pandemi di tahun 2020 ini, Museum Nasional Indonesia melakukan perombakan terkait program publik sebagai bentuk responsif dengan target audience seluruh kelompok usia namun dengan prioritas kalangan pelajar. Beberapa program tersebut banyak berfokus pada sistem daring / digital yang antara lain adalah pameran dari rumah, seminar daring, dan pemanduan daring.

Gambar 2. Pameran Dari Rumah (museumnasional.or.id)
Pameran dari Rumah merupakan program berbentuk lomba melakukan pameran yang dilaksanakan dari rumah dengan cara memberikan keterangan pada foto objek museum dari objek yang telah disediakan pilihannya oleh museum. Pameran tersebut kemudian diunggah di Instagram dan dapat diikuti oleh berbagai kalangan. Program ini bermanfaat karena melibatkan masyarakat khususnya para pengunjung yang banyak menghabiskan waktunya di sosial media. Selain itu masyarakat juga berperan secara aktif dalam mencari tau konteks sejarah hingga fungsi dari suatu objek museum sehingga masyarakat dapat menambah pengetahuan dan apresiasinya terhadap museum dan objek museum tersebut.

Gambar 3. Seminar Daring Museum Nasional Indonesia (museumnasional.or.id)
Program publik selanjutnya yang dilakukan adalah dengan melakukan seminar daring dengan beberapa narasumber dari beragam latar belakang keahliannya dan dibawa dengan topik-topik yang menarik untuk dibahas. Hal ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap suatu ilmu pengetahuan dan untuk melibatkan masyarakat secara aktif dengan melakukan diskusi agar dapat terpenuhi hasratnya terhadap suatu topik seminar tersebut. Selain itu, dengan adanya seminar daring ini menunjukkan bahwa museum juga dapat hadir sebagai fasilitator terhadap kebutuhan masyarakat.

Gambar 4. Pemanduan Daring Museum Nasional Indonesia (museumnasional.or.id)
Selain kedua program diatas, Museum Nasional Indonesia juga membuat program pemanduan daring yang dipandu oleh pemandu museum. Masyarakat dipandu mengenai tata ruang museum dan koleksi-koleksinya. Berdasarkan hasil riset museum,menunjukkan bahwa rata-rata peserta pemanduan daring ini berasal dari wilayah Jabodetabek sehingga program ini dijadikan program utama oleh museum dalam masa pandemi dan bahkan diwacanakan untuk dilanjutkan setelah museum dapat dibuka kembali. Hal ini karena masyarakat diluar Jabodetabek yang tidak dapat mengunjungi Museum Nasional Indonesia baik itu ketika masa pandemi masih berlangsung maupun telah usai dapat turut menikmati dan mendapatkan tambahan pengetahuan dan rasa apresiasi terhadap museum.
Dengan demikian, Public Engagement berupa program-program adaptasi publik menjadi hal yang penting khususnya ketika masa pandemi. Museum Nasional Indonesia membuat beberapa program publik sebagai bentuk responsif museum dalam menghadapi tantangan dengan tetap memenuhi keinginan masyarakat dengan hadir di tengah masa pandemi Covid-19. Museum berperan sebagai fasilitator dan pemberi informasi. Selain itu masyarakat juga dilibatkan secara aktif untuk mengikuti ketiga program diatas. Ketiga program tersebut diharapkan dapat memenuhi keinginan masyarakat dari berbagai kelompok usia dan daerah sehingga masyarakat dari berbagai usia dan berbagai tempat berhasil mendapatkan manfaat dari adanya program publik di tengah pandemi. Harapannya, museum- museum lainnya juga dapat turut terinspirasi untuk menghadapi tantangan pandemi Covid-19 dengan mengaplikasikan public engagement lewat program-program publik yang bersifat adaptif.
Referensi:
1. Black, Graham. Embedding Civil Engagement in Museum. Reader in Public History and Heritage Management, Nottingham Trent University. United Kingdom. Available at: http://irep.ntu.ac.uk/id/eprint/3034/1/205875_8031%20Black%20Postprint.pdf
2. https://www.museumnasional.or.id/yuk-ikut-diskusi-dan-tanya-jawab-pengelolaan- museum-nasional-2731
3. https://www.museumnasional.or.id/yuk-ikut-diskusi-dan-tanya-jawab-pengelolaan- museum-nasional-2731
4. Program Publik Di Museum Nasional Indonesia. 2020. Channel Youtube Museum Nasional Indonesia: Museum Nasional Indonesia. Bit.ly/MNIchannel
Comments